PPBBI

Opisina arenosella : Ulat Unik Pengancam Perkebunan Kelapa di Indonesia

Nama ulat Opisina arenosella atau lebih dikenal dengan sebutan ulat berkepala hitam mungkin asing didengar sebagai hama yang menyerang tanaman kelapa di Indonesia. Namun, sejatinya hama ini merupakan salah satu defoliator daun utama yang menyerang tanaman kelapa di wilayah Asia Selatan hingga Asia Tenggara. Hama ini memang belum dilaporkan menyerang tanaman kelapa di Indonesia sebelumnya. Penyebaran hama ini sudah mencapai Thailand, Malaysia dan Vietnam pada akhir 2019 sebelum akhirnya juga ditemukan menyerang tanaman kelapa di Bogor, Jawa Barat pada awal tahun 2021. Ulat ini terbilang unik karena membuat terowongan yang terbuat dari feses dan serpihan daun kelapa yang dijadikan tempat berlindung. Gejala serangannya juga unik karena ulat ini menyerang daun tua dan merekatkan daun satu dengan lainnya. Di Asia Selatan, serangan hama ini termasuk sangat berat karena dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 45%. Meskipun di Indonesia daerah penyebarannya masih terbatas, namun hama ini sangat berpotensi menjadi hama utama yang mengancam perkebunan kelapa di Indonesia.

Gambar 1. Gejala serangan O. arenosella pada pertanaman kelapa di Bogor, Jawa Barat

Opisina arenosella Walker (Lepidoptera: Oecophoridae) atau lebih dikenal dengan nama umum ulat berkepala hitam (black-headed caterpillar), merupakan salah satu hama defoliator daun utama yang menyerang tanaman kelapa di Asia Selatan seperti India [1], Sri Langka [2], Bangladesh [3] dan Pakistan [4] yang dilaporkan pertama kali pada tahun 1907. Seiring perkembangannya, hama ini kemudian bergerak menyebar ke wilayah China [5] dan Asia Tenggara seperti Myanmar [6], Thailand [7] dan Malaysia [8] pada tahun 2018. Di Indonesia sendiri serangan hama ini baru ditemukan menyerang tanaman kelapa di Bogor, Jawa Barat pada akhir tahun 2020 (Gambar 1A) [9]. Melihat dampak serangan hama ini yang sangat parah di daerah endemiknya yaitu Asia Selatan, maka keberadaan serangan hama tanaman kelapa ini di Indonesia patut untuk diwaspadai. Meskipun penyebarannya masih terbatas, namun hama ini sangat berpotensi untuk menjadi hama utama pada tanaman kelapa di Indonesia. Serangan hama ini menyebabkan kanopi terlihat kering dari kejauhan, hal ini diakibatkan larva O. arenosella menyerang daun tua dengan memakan lapisan epidermis bawah daun kelapa. Gejala serangan yang unik dari hama ini adalah larvanya membentuk saluran/terowongan yang terbuat dari feses dan sutera dengan merekatkan beberapa helai dau kelapa (Gambar 1).

Keseluruhan siklus hidup hama O. arenosella berlangsung selama 2 hingga 2,5 bulan dari mulai telur hingga imago. Fase telur berkisar antara 4-5 hari [10], kemudian menetas dan menjadi larva yang memiliki 5-8 instar pertumbuhan dan berlangsung selama 30-40 hari. Fase pupa selanjutnya belangsung selama 14-21 hari yang selanjutnya menjadi imago yang merupakan fase penyebaran dari hama ini. Keragaan larva hama ini memiliki ciri khas berupa kepala yang berwarna hitam (gelap) dengan 3 garis yang melintang dari anterior menuju posterior (Gambar 2).

Gambar 2. Stadia pertumbuhan O. arenosella: (A) Telur; (B) Larva; (C) Pupa; (D) Imago

Penelitian tentang hama ini di Indonesia masih sangat terbatas, atau bahkan bisa dibilang belum ada. Hal ini disebabkan karena belum adanya laporan sebelumnya mengenai serangan hama ini pada tanaman kelapa di Indonesia. Padahal, hama ini merupakan hama utama pada tanaman kelapa di Asia Selatan yang sudah sangat lama menjadi masalah serius karena kesulitan untuk mengendalikannya. Kesulitan pengendalian hama ini berkaitan dengan kebiasaan larva ulat ini yang berlindung didalam terowongan/tunnel yang terbuat dari feses dan sisa-sisa daun kelapa. Hal ini menyebabkan sulitnya aplikasi insektisida untuk melakukan kontak dengan larva target. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan insektisida sistemik, namun hasil yang diperoleh dari aplikasi insektisida ini masih belum bisa dikatakan efektif. Dengan demikian, sangat diperlukan penelitian pendahuluan untuk mempelajari biologi dan juga musuh alami yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai agen pengendali hama ini. Dengan informasi mengenai hama target yang lebih banyak, dapat mendukung usaha pengendalian hama ini. Selain itu juga perlu dilakukan pembatasan penyebaran hama ini agar tidak menyebar ke daerah-daerah sentra kelapa/kopra seperti pulau Sulawesi.

Referensi

  1. Jayaratnam TJ. A study of the control of the coconut caterpillar (Nephantis serinopa Meyr.) in Ceylon with special reference to its Eulophid parasite, Trichospilus pupivora Ferr. Trop Agriculturist Ceylon. 1941;96: 3–31.
  2. Kumara ADNT, Chandrashekharaiah M, Subaharan K, Chakravarthy AK. Periodicity of adult emergence and sexual behaviour of coconut black headed caterpillar, Opisina arenosella Walker (Lepidoptera: Oecophoridae). Phytoparasitica. 2015;43: 701–712. doi:10.1007/s12600-015-0481-2.
  3. Asia and Pacific Plant Protection Commission. Insect pests of economic significance affecting major crops of the countries in Asia and the Pacific region. Technical Document (APPPC) No. 135. Bangkok: Regional Office for Asia and the Pacific Region (RAPA); 1987. p. 56.
  4. Alam M. A list of insects and mites of Eastern Pakistan. Report of the Agriculture Department, Dhaka. Dacca; 1962.
  5. Lu B, Tang Z, Bellis G, Li Y, Peng Z, Jin Q, et al. Life table analysis under constant temperature for Opisina arenosella (Lepidoptera: Xyloryctidae), an invasive moth of palm plants. Austral Entomology. 2016;55: 334–339. doi:10.1111/AEN.12195.
  6. Cock MJW, Perera P. Biological control of Opisina arenosella Walker (Lepidoptera, Oecophoridae). Biocontrol News and Information. 1987;8: 283–310.
  7. Sukhirun N, Sakulmak Ch, Keaubunsong P. Life Cycle of the Coconut Black-Headed Caterpillar, Opisina arenosella Walker (Lepidoptera: Oecophoridae) Cultured at Room temperature. Songklanakarin Journal of Plant Science. 2015;2: 43–46. Available: https://natres.psu.ac.th/sjps/index.php/journal/article/view/131.
  8. Mahadi NA, Yusof TAA. The first record of incidence of the invasive moth Opisina arenosella and its parasitoid on coconut palms in Malaysia. In: Laboh R, editor. National Coconut Conference. Perak: Malaysian Agricultural Research and Development Institute; 2018. pp. 92–97. Available: https://www.researchgate.net/publication/329414444_The_first_record_of_incidence_of_the_invasive_moth_Opisina_arenosella_and_its_parasitoid_on_coconut_palms_in_Malaysia.
  9. Yusup CA. Catatan pertama insidensi serangan Opisina arenosella pada tanaman kelapa di Indonesia dan potensi pengendaliannya secara bioteknologi. In: Kresnawaty I, Saptari RT, Aziz MA, editors. Prosiding Seminar Nasional Bioteknologi II. Bogor: Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia; 2021. pp. 37–50.
  10. DOA Thailand. Regional Training Workshop on Mass Production of Beneficial Insects and Nematodes. Bangkok; 2017.