• header-produk1.jpg
  • header-produk2.jpg
  • header-produk3.jpg
  • header-produk4.jpg

Saat ini Indonesia dibanjiri oleh pestisida import. Hal itu terungkap dari data yang disampaikan oleh Ir. Djoko Prijono, MAgrSc, ahli pestisida IPB Bogor, yang disampaikan pada Pelatihan Pemanfaatan dan Pembuatan Pestisida Organik untuk mendukung Agro-industri yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan, di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), Bogor. Ir. Djoko Prijono, MAgr.Sc. mengungkapkan bahwa dari satu merek pestisida dalam satu tahun bisa menjual jutaan liter. Padahal di Indonesia sudah terdaftar 2475 formula dengan beragam merk. Pestisida pada dasarnya adalah racun, tidak hanya untuk hama dan penyakit saja, tetapi racun ini juga bisa membahayakan manusia atau pun oranisme non target lainnya.

BPBPI menyadari bahaya tersebut dan mencoba untuk memberikan alternatif solusi penanganan hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia yaitu Pestisida Organik dan Hayati. Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 24-25 September 2014 di aula BPBPI, Bogor. Tidak kurang dari empat belas peserta yang berasal dari pekebun/petani, perusahaan perkebunan nasional, perusahaan pesitida, dan instansi pemerintah mengikuti acara pelatihan ini.

Sebagian besar kopi yang dihasilkan dari kebun rakyat tidak terfermentasi dengan baik, sehingga mutu citarasanya kurang. Fermentasi pada pengolahan kopi secara basah bertujuan untuk menghilangkan lapisan lendir (mucilage) pada permukaan kulit tanduk kopi dan meningkatkan citarasa seduhan kopi.  Buah kopi yang telah masak sempurna (fully ripe) berwarna merah,  mengandung lendir,  gula, tannin, lemak, mineral, serat dan air. Pada proses pengupasan daging buah (depulping) sebagian lapisan lendir masih menempel di permukaan kulit tanduk. Lapisan lendir yang mengandung pektin (asam poligalakturonat), protein,  gula sederhana dan polisakarida harus dihilangkan agar (1) pengeringan lebih ringan dan cepat karena senyawa gula dan pektin bersifat higroskopis , (2) senyawa gula tidak menjadi media pertumbuhan yeast dan bakteri tidak diinginkan yang merusak mutu biji kopi, dan(3) kotoran dan debu tidak menempel pada lendir yang mengganggu pengeringan dan menyebabkan kontaminasi. Mikroba residen alami pada permukaan buah kopi akan aktif pasca pemanenan dan bersama-sama dengan mikroba yang menempel pada peralatan pengolahan (mesin pengupas), karung, dan wadah fermentasi serta enzim-enzim hidrolitik dalam lendir akan berperan dalam proses fermentasi kopi.

Penambahan ragi fermentasi akan mengubah keseimbangan ekosistem fermentasi kopi sehingga mikroba yang bermanfaat dalam ragi akan mendominasi. Hasil fermentasi yang terbentuk ialah asam-asam organik, alkohol dan senyawa aromatis, serta asam-asam amino. BPBPI telah mengembangkan ragi atau starter fermentasi yang diberi nama Ciragi.  Fermentasi kopi dengan Ciragi dapat meningkatkan skor cup test citarasa yang merupakan komponen terpenting uji organoleptik.Peningkatan citarasa yang signifikan akan menghasilkan kopi specialty  dengan premium harga yang sangat menarik, hingga di atas US $ 2 /kg. Untuk informasi lebih lanjut dapat men-download leaflet berikut : download leaflet

Tanaman Perkebunan merupakan salah satu sektor penting dalam membangun perekonomian negara Indonesia. Areal tanaman perkebunan yang luas di Indonesia dapat berperan dalam meningkatkan devisa negara serta penyediaan lapangan kerja dari puluhan juta hektar lahan perkebunan. Besarnya peluang negara Indonesia dalam mendapatkan keuntungan tersebut, tidak disertai dengan optimasi hasil produksi yang memuaskan. Salah satunya dapat terlihat dari produktivitas tanaman perkebunan yang relatif masih rendah. Hal tersebut disebabkan oleh penggunaan benih dan bibit tanaman perkebunan yang tidak unggul. Upaya mendapatkan benih tanaman yang unggul dapat dilakukan perbanyakan tanaman secara klonal salah satunya dengan teknik kultur jaringan. Berdasarkan latar belakang tersebut Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) telah mengadakan pelatihan yang berjudul ‘Teknik Kultur Jaringan Tanaman Perkebunan’.

Pelatihan diikuti oleh karyawan/ti Dinas Perkebunan dan Pertanian, Dinas Kehutanan Kota Bogor dan perusahaan swasta, Peneliti, serta Praktisi yang bergerak di bidang perbenihan dan tanaman perkebunan. Pelatihan kali ini diselenggarakan pada tanggal 19 Mei 2014 sampai dengan 23 Mei 2014, bertempat di BPBPI Jl. Taman Kencana no.1, Bogor dan Laboratorium Biak Sel dan Mikropropagasi Tanaman Jl. Jabaru II no.21, Ciomas, Bogor. Materi yang disajikan sangat komprehensif, mencakup penjelasan dasar-dasar kultur jaringan tanaman hingga mengupas dan memberikan solusi dari permasalahan produksi tanaman perkebunan dengan teknik kultur jaringan. Para narasumber yang memberikan materi merupakan peneliti BPBPI yang kompeten dan berpengalaman di bidang kultur jaringan tanaman perkebunan.

Dalam rangka mendukung pengusahaan kelapa sawit Nasional khususnya di Propinsi Kalimantan Tengah telah dilakukan kerja sama waralaba antara BPBPI dengan PPKS dalam pembibitan kelapa sawit. Kegiatan ini diharapkan menunjang pengadaan bibit asli di Propinsi Kalimantan Tengah. Proyeksi ke depan kami akan mengembangkan bibit kelapa sawit. Hal ini untuk menjawab kondisi suboptimal lahan dan iklim di Propinsi Kalimantan Tengah dan Pulau Kalimantan pada umumnya. Lokasi pembibitan berada di Kabupaten Kasongan Propinsi Kalimantan Tengah pada lahan seluas 25 Ha. Penjualan bibit tahap 1 hingga 4 telah selesai dan saat ini tersedia bibit dengan umur 8 bulan dan 3 bulan sejumlah total 75.000 bibit. Target ke depan pada tahun ini akan dilakukan pembibitan hingga 200.000 atau lebih sesuai dengan pesanan.

Perluasan areal tanaman perkebunan dan kehutanan telah bergeser ke lahan-lahan suboptimal baik lahan dengan kesuburan rendah maupun agroklimat yang kurang sesuai. Degradasi lahan juga menjadi masalah dalam pengembangan tanaman perkebunan dan kehutanan. Indonesia dengan posisi geografis tropis merupakan karunia yang besar bagi kita. Keanekaragaman hayati yang luar biasa merupakan anugerah bagi bangsa yang tak ternilai. Salah satu plasma nutfah yang bermanfaat di lahan suboptimal dan terdegradasi adalah Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA), suatu cendawan tertua yang mampu bersimbiosis dengan tanaman tingkat tinggi termasuk tanaman perkebunan dan kehutanan. CMA diketahui berperan nyata dalam meningkatkan penyerapan hara tanaman dan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Penelitian mengenai peran CMA banyak dilakukan baik di dalam maupun luar negeri dan hingga kini lebih banyak mengarah pada kegiatan biologi molekuler. Namun demikian  pengembangan cendawan ini masih terkendala ketersediaan inokulum.

 

Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia
Jl. Taman Kencana No.1, Bogor 16128- Indonesia Phone: (0251) 8324048, 8327449 Fax. : (0251) 8328516 Email: admin@iribb.org
Hak cipta © 2021
Media Sosial :