• header-produk1.jpg
  • header-produk2.jpg
  • header-produk3.jpg
  • header-produk4.jpg

Potensi Stevia rebaudiana diangkat dalam tema talk show Pusat Unggulan Iptek di RITECH EXPO

Pada hari minggu, 9 Agustus 2015 Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) yang telah diakui sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) ikut meramaikan acara RITECH EXPO 2015 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Pada kesempatan tersebut Ir. Sumaryono, M.Sc yang mewakili PPBBI memperkenalkan potensi tanaman pemanis stevia untuk memenuhi kebutuhan industri dalam sebuah acara talk show singkat yang berdurasi 30 menit.

Stevia rebaudiana atau yang lebih lazim disebut stevia merupakan tanaman pemanis alami yang memiliki tingkat kemanisan 300 kali lebih tinggi dibandingkan gula tebu. Tanaman yang berasal dari Paraguay tersebut masuk ke Indonesia pada tahun 1970 melalui perantaraan Jepang. Pada tahun 1980-an, Indonesia mulai mengekspor stevia dalam bentuk daun kering. Pada saat itu permintaan masih sedikit karena secara komersial baru dimanfaatkan oleh penduduk Jepang. Akibatnya industri stevia dalam negeri menurun dan hilang.

Seiring dengan didapatkannya status GRAS (Generally Recognize As Safe) oleh FDA pada tahun 2008, stevia mulai diminati kembali. Industri stevia di dunia mulai berkembang. Stevia dikomersialkan dalam bentuk ekstrak baik berupa gula kristal stevia maupun sirup gula stevia. Stevia juga dimanfaatkan dalam bentuk produk olahan atau campuran seperti pemanis dalam minuman ringan zero calorie, yogurt dan selai.

Adapun beberapa keunggulan stevia adalah sebagai berikut : 1. Non kalori Aman untuk mereka yang sedang melakukan diet. Data menunjukkan bahwa sebanyak 1 milyar penduduk di dunia overweight dan 400 juta diantaranya obesitas; 2. Glikemik Indeks (GI) nol (0) Cocok untuk penderita diabetes. Data Kemenkes menunjukkan bahwa populasi penderita diabetes di Indonesia cukup besar; 3. Sangat manis Tingkat kemanisan stevia mencapai 200-300 kali lebih tinggi daripada gula sukrosa; 4. Alami Dengan sifat non kalori, GI nol sangat manis dan alami, stevia memiliki potensi besar untuk menggantikan gula sintetik dengan sifat yang hampir sama.

Dalam 5 tahun terakhir di Indonesia sudah berkembang beberapa kebun stevia oleh perusahaan seperti di Medan, Bandung, Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta serta Nusa Tenggara Timur.

Terlepas dari semua kelebihan stevia tersebut diatas, rasa langu (bitter after taste) masih menjadi kelemahan dari produk stevia. Oleh sebab itu, PPBBI serius menggarap riset tentang stevia dan telah mengembangkan klon yang memiliki produktivitas glikosida tinggi serta tidak langu.

Di Indonesia, stevia tumbuh di daerah dataran tinggi (lebih dari 800 mpdl). Perbanyakan stevia umumnya dilakukan menggunakan stek pucuk. Stek pucuk kemudian dicelup ke dalam larutan penginduksi akar dan ditanam dalam media di multitray. Stek disungkup selama 2-3 minggu, kemudian ditanam pada bedengan bermulsa dengan jarak tanam 25 x 25 cm. Penggunaan mulsa ini berfungsi untuk menurunkan gulma sekalugus menurunkan serangan penyakit. Populasi tanaman stevia di kebun berkisar 80.000-90.000 tanaman/ha. Bagian yang paling manis dari stevia adalah daun. Daun di panen menjelang berbunga. Di Indonesia rata-rata stevia dapat dipanen sebanyak 6-8 kali/tahun, sedangkan di luar negeri stevia dapat dipanen 2 kali/tahun. Tanaman ini merupakan tanaman berhari pendek, sehingga akan cepat berbunga apabila lama penyinaran kurang dari 14 jam (critical point).

 

Penulis : Masna Maya Sinta, SSi


Share di Facebook

Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia
Jl. Taman Kencana No.1, Bogor 16128- Indonesia Phone: (0251) 8324048, 8327449 Fax. : (0251) 8328516 Email: admin@iribb.org
Hak cipta © 2021
Media Sosial :