Sabut Kelapa Menjadi Solusi Untuk Atasi Ancaman Gagal Panen

Kekeringan yang melanda Indonesia di musim kemaraunya kerap menimbulkan kekhawatiran tersendiri baik dikalangan pemerintah maupun petani. Pasalnya, akibat dari kekeringan ini mengancam ketahanan pangan nasional. Para petani mulai kesulitan mencari air dan ribuan hektar terancam gagal panen. Namun, saat ini sudah ada solusi untuk mengatasi gagal panen dengan sabut kelapa.

Untuk mengatasi kekeringan yang terus berulang hampir disetiap tahunnya, sekiranya perlu dibuat rekayasa pola tanam atau sejenisnya. Hal ini dimaksudkan agar saat memasuki musim kemarau, para petani tidak perlu panik serta khawatir kesulitan air dan gagal panen.

Seperti yang ditawarkan oleh Ady Indra Pawennari, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI). Ady menawarkan modifikasi media tanam dengan menggunakan coco peat (sabut kelapa) sebagai solusi mengatasi ancaman kekeringan pada lahan pertanian.

Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan produsen buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai 15 miliar butir/tahun. Namun, sabut kelapanya (coco peat) belum banyak dimanfaatkan sebagai komoditas bernilai ekonomi.

Menurut Ady, coco peat mampu menyimpan air lebih dari 300% dari kemampuan lahan biasa dalam menyimpan air. Hal ini akan sangat membantu mengatasi ancaman kekurangan air terhadap tanaman pangan. Di samping itu, coco peat juga mampu menyerap air secara cepat dan menghambat kehilangan air karena penguapan.

Coco peat sudah diuji-cobakan di beberapa macam lahan, seperti di lahan kritis, pengujian di rumah kaca maupun uji lapangan dan terbukti memiliki kinerja yang baik sebagai metoda alternatif untuk mengatasi kekurangan air pada tanaman.

Selain mengatasi kekurangan air akibat musim kering, coco peat juga dapat membantu mencukupi hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat tumbuh subur. Beberapa unsur hara tersbeut meliputi Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Kalium (K), Natrium (Na), dan Fospor (P) serta mampu menyerap unsur N dari udara dan menyediakan hara melalui aktifiras bakteri pengurai.

Bukan hanya itu saja, coco peat juga memiliki pori-pori yang memudahkan pertukaran udara dan sinar matahari. Kandungan Trichoderma molds (sejenis enzim dari jamur) dapat mengurangi penyakit dalam tanah dan menjaga tanah tetap gembur dan subur.

Selain itu, para petani juga bisa mensiasati dengan sistem wana tani atau disebut juga agroforestry yaitu penanaman pohon di sekitar lahan pertanian. Hal ini bukan saja akan mencegah terjadinya erosi, tapi juga melindungi lahan dari angin kencang yang mengakibatkan tingginya penguapan. Akar pohonnya juga bisa memperkuat lahan dan meningkatkan produktivitas serta ketahanan lahan.

Rasanya, perlu juga dipikirkan bagaimana sistem irigasi yang pintar. Hampir 50% air irigasi terbuang karena proses penguapan, kesalahan dalam membuat tata kelola dan tidak efektifnya pemakaian. Maka sekiranya perlu dipikirkan bagaimana sistem irigasi yang efektif dan efisien sehingga lebih hemat dan dapat meninimalisir kelangkaan air.

Sumber : www.labsatu.com

Baca juga :

Cegah Keriput Dan Kanker Kulit Dengan Tomat

Dahsyatnya Wortel Dalam Menyembuhkan Kanker

Awar-Awar, Tumbuhan Liar Penangkal Bakteri

5 Tumbuhan Kaya Manfaat Yang Bisa Kamu Makan Di Hutan Saat Tersesat

Dua Senyawa yang Dipercaya Mampu Mengobati Ketergantungan Rokok dan Alkohol