Pelatihan

Workshop Aplikasi teknik bioinformatika untuk riset bioteknologi modern dalam bidang bioteknologi pertanian dan kesehatan

Informasi dari kemajuan bioteknologi seperti data sekuen DNA dari pembacaan genom, data sekuen dan struktur protein sampai kepada data transkripsi RNA telah berkembang pesat. Kini, perpaduan antara bioteknologi dan teknologi informasi (bioinfomatika) menjelma menjadi cabang ilmu yang mengorganisasi dan menganalisa data-data tersebut menjadi sebuah informasi biologis bermakna. Ribuan database telah tercipta dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir di dunia yang mendukung perkembangan dari riset di dunia pertanian dan kesehatan. Keberadaan database dari berbagai organisme yang bersifat terbuka (open access) tersebut memungkinkan pencarian kandidat-kandidat gen yang memiliki potensi untuk perbaikan sifat tanaman atau menyeleksi kandidat senyawa obat untuk penyakit melalui rekayasa genetika. Hal tersebut semakin penting mengingat tren penelitian in silico yang sangat membantu ilmuwan untuk melakukan penelitian secara lebih tepat, terarah dan efisien.

Sebagai institusi riset, PPBBI telah lama menggunakan pendekatan bioinformatika sebagai bagian dari penelitian bioteknologi untuk mendapatkan hasil terbaik. Oleh karena itu, dalam upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan di bidang bioinformatika, PPBBI akan menyelenggarakan workshop dengan topik : “Aplikasi teknik bioinformatika untuk riset bioteknologi modern dalam bidang bioteknologi pertanian dan kesehatan”. Workshop ini merupakan gabungan antara teori dan praktek yang mencakup penggunaan database, analisis sekuen, BLAST dan penjajaran sekuen, perancangan primer, sekuensing DNA, dan analisis protein.

Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) akan mengadakan workshop"Aplikasi teknik bioinformatika untuk riset bioteknologi modern dalam bidang bioteknologi pertanian dan kesehatan". Workshop selama tiga hari yang berlangsung pada tanggal 04-06 Agustus 2015 bertujuan untuk Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan teknik-teknik bioinformatika dan penerapannya dalam menunjang penelitian bioteknologi pertanian dan kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat men-download leaflet berikut : download leaflet


Share di Facebook

 

Pelatihan Teknik Perbanyakan Tanaman Melalui Kultur Jaringan

Pembangunan perkebunan di Indonesia meningkat pesat dalam satu dekade terakhir. Indonesia termasuk negara produsen utama untuk beberapa komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, teh, dan tebu. Namun produktivitas tanaman perkebunan di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lain. Salah satu faktor penyebabnya yaitu rendahnya penggunaan bibit unggul.

Kebutuhan bibit unggul tanaman perkebunan di Indonesia mencapai ratusan juta bibit per tahun. Kebutuhan akan bibit tanaman hias saat ini juga meningkat pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan tanaman hias untuk ekspor. Peran penting kultur jaringan adalah menyediakan bibit unggul klonal skala besar secara cepat. Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) memiliki kemampuan dan pengalaman panjang dalam pengembangan kultur jaringan tanaman perkebunan, tanaman hias dan hortikultura. Di Indonesia, saat ini puluhan juta benih unggul tanaman tersebut telah dihasilkan melalui kultur jaringan.

Selain untuk tujuan perbanyakan tanaman, kultur jaringan juga berperan dalam program pemuliaan tanaman melalui transformasi genetik dan pemuliaan tanaman in vitro, penyediaan bibit bebas-penyakit, produksi senyawa metabolit sekunder bernilai tinggi, dan untuk konservasi plasma nutfah tumbuhan secara in vitro.

Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) akan mengadakan pelatihan "Teknik Perbanyakan Tanaman  Melalui Kultur Jaringan". Pelatihan selama lima hari yang berlangsung pada tanggal 18-22 Mei 2015 bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan kultur jaringan pada tanaman perkebunan dan tanaman hias.. Untuk informasi lebih lanjut dapat men-download leaflet berikut : download leaflet


Share di Facebook

 

Workshop Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang untuk Perkebunan dan Kehutanan

Dalam rangka pembangunan berkelanjutan, rehabilitasi lahan pasca tambang harus lebih diarahkan kepada pengembangan lahan produktif ramah lingkungan yang lebih konseptual. Peraturan Pemerintah RI No.78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca Tambang dan Permen ESDM No.7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pasca Tambang pada kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara sudah harus dapat diimplementasikan dalam setiap kegiatan penambangan serta peruntukannya bagi kegiatan reboisasi hutan, pertanian, perkebunan, peternakan, pemukiman, reservoar air baku atau perikanan dan ekowisata.

Workshop yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri, PT Riset Perkebunan Nusantara pada tanggal 24-26 Maret 2015 merupakan salah satu upaya untuk menghimpun masukan dan rumusan, konsep, model, dan prinsip pengelolaan lahan pasca tambang yang sesuai dengan kondisi agroekologi serta teknologi pendukungnya. Dalam konteks ini riset dan teknologi yang dikembangkan diharapkan dapat memberikan solusi terhadap upaya rehabilitasi untuk pengembangan lahan perkebunan dan kehutanan yang produktif dan berkelanjutan.

Pembekalan teknik analisis cemaran logam berat akan disampaikan dalam bentuk praktikum singkat serta dilaksanakan di Laboratorium Pengujian (LP-PPBBI) yang telah memiliki sertifikat KAN.

Workshop "Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang untuk Perkebunan dan Kehutanan" akan diselenggarakan selama tiga hari yang berlangsung pada tanggal 24-26 Maret 2015 bertujuan : 1) Sarana informasi penerapan model rehabilitasi kawasan di hutan lahan kering, lahan basah (hutan rawa gambut, mangrove), dan kawasan hutan pasca tambang; 2) Menjabarkan strategi dan IPTEK rehabilitasi kawasan pasca tambang; 3) Membangun jejaring komunikasi lingkup pengguna, pengelola kebun/HTI dan tambang, praktisi, peneliti, dan pemerhati lingkungan. Untuk informasi lebih lanjut dapat men-download leaflet berikut : download leaflet

==> Formulir Registrasi


Share di Facebook

 

Pelatihan Teknik Pengendalian Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) dan Kekeringan Alur Sadap (KAS) Pada Tanaman Karet

Karet mempunyai arti penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Komoditas ini berperan sebagai komoditi penghasil devisa negara, penyedia lapangan kerja bagi penduduk dan sumber penghasilan bagi petani karet. Budidaya tanaman karet selama ini terkendala penyakit jamur akar putih yang disebabkan jamur Rigidoporus lignosus dan mengakibatkan kematian pada tanaman karet muda, tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Penyebaran penyakit ini di perkebunan karet sangat cepat karena dapat melalui kontak akar dengan tanaman di sekitarnya.

Selain karena serangan patogen, produktivitas tanaman karet merosot tajam akibat adanya penyakit kekeringan alur sadap (KAS) atau brown bast yang menyebabkan kerugian 12-20% dari produksi karet tahunan. Kekeringan alur sadap merupakan gangguan fisiologis pada tanaman karet sehingga alur sadapnya kering dan tidak mengalirkan lateks apabila disadap. Kerugian yang diakibatkan oleh KAS di perkebunan karet di Indonesia diperkirakan lebih dari Rp 2,8 triliun/tahun. Permasalahan tersebut merupakan salah satu penyebab produktivitas tanaman karet Indonesia lebih rendah dibanding negara produsen karet lainnya, seperi Thailand dan Malaysia, yaitu hanya 0,8 ton/ha sedangkan Thailand 1,5 ton/ha.

Sebagai institusi riset dan pengembangan perkebunan, BPBPI telah lama mengembangkan metode penanggulangan jamur akar putih (JAP) dan KAS pada karet dengan pendekatan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pendekatan yang dilakukan dengan penggunaan agensia hayati dan bahan organik yang mudah diaplikasikan dan terjangkau oleh para pekebun.

Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) akan mengadakan pelatihan "Teknik Pengendalian Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) dan Kekeringan Alur Sadap (KAS) Pada Tanaman Karet". Pelatihan selama dua hari yang berlangsung pada tanggal 3-4 Desember 2014 bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai cara penanggulangan yang efektif terhadap jamur akar putih (JAP) dan kekeringan alur sadap (KAS) sehingga dapat mengembalikan produktifitas tanaman karet. Untuk informasi lebih lanjut dapat men-download leaflet berikut : download leaflet

==> Formulir Registrasi


Share di Facebook

 

Pelatihan Teknologi Deteksi Keamanan dan Kehalalan Pangan

LATAR BELAKANG

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  di bidang pangan disertai dengan perubahan gaya hidup konsumen, serta  makin maju dan terbukanya  dunia perdagangan membawa dampak  pada industri pangan di Indonesia.  Pertumbuhan industri pangan tersebut diiringi  dengan semakin beragamnya  jenis pangan olahan yang beredar di masyarakat.  Pada masa lalu, penerimaan konsumen pada bahan baku dan produk pangan masih terbatas pada faktor harga dan jenis, tetapi saat ini dan terlebih ke depan konsumen menuntut atribut mutu yang lebih luas.  Atribut mutu pangan tersebut antara lain meliputi (1) mutu gizi, (2) manfaat kesehatan / healthy and functional food, (3) keamanan pangan (food safety) seperti kandungan kontaminan mikroba patogen penyebab foodborne disease, logam-logam berat, residu pestisida kimia dan food additives, dan  (4) kehalalan pangan (halal food). Walaupun pangan asal genetically modified organism (GMO) atau tanaman transgenik  belum terbukti berdampak merugikan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan,  sebagian besar konsumen menghendaki sertifikasi khusus terhadap pangan tersebut baik yang masuk ke pasar nasional maupun global.  Penerapan atribut mutu pangan yang luas tersebut perlu pengawasan mutu dan inspeksi ketat mulai dari sistem produksi bahan baku di lapang, proses produksi, produk akhir, distribusi dan penyimpanan hingga ke konsumen atau from farm to table. Dengan memenuhi atribut mutu tersebut, produsen pangan diharapkan dapat memenuhi permintaan konsumen yang lebih luas dengan harga premium.

Bentuk hambatan non-tariff dalam perdagangan bebas dunia yang lebih dikenal dengan technical barrier to trade yang masih sering digunakan oleh negara maju pada produk pertanian dan pangan antara lain adalah penerapan standar sanitasi / hygiene dan standar mutu yang sangat ketat. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan pemahaman yang baik dan keterampilan dari para praktisi dalam melakukan analisis mutu keamanan pangan.  Pelatihan ini akan mengupas seputar keamanan dan kehalalan pangan beserta teknik deteksinya di laboratorium.

Tujuan :

Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pengujian keamanan dan kehalalan pangan serta deteksi pangan transgenik /GMO.

Materi :

1. Keamanan pangan : Suatu keharusan, bukan pilihan.  (Badan POM, Kementerian Kesehatan)

2. Pengendalian keamanan pangan dengan hazard analysis critical control point (HACCP). (Dr.  Ratih Dewanti / IPB)

3. Zat aditif dalam bahan pangan : Amankah ..?  (Prof Dr.  Nuri Andarwulan / IPB)

4. Dampak kontaminasi logam berat dan residu pestisida dalam bahan pangan. (Dr. Tri Panji / BPBPI)

5. Kehalalan pangan dan teknik deteksi kontaminasi daging babi secara molekuler. (Dr. Hayati Minarsih / BPBPI)

6. Deteksi lemak babi pada produk pangan dengan analisis profil asam lemak penyusunnya. (Dr. Tri Panji / BPBPI)

7. Deteksi mikroba patogen dalam bahan pangan. (Ir. Suharyanto, MS / BPBPI)

8. Genetically modified organism (GMO) pada bahan baku dan produk pangan  dan teknik deteksinya secara molekuler. (Dr. Asmini Budiani / BPBPI)

9. Praktikum :

- Analisis logam berat pada pangan secara cepat dan simultan

- Analisis residu pestisida dengan HPLC

- Teknik PCR/realtime PCR untuk deteksi kontaminasi daging babi

- Deteksi GMO dalam bahan pangan secara molecular

- Deteksi cepat E. coli dan Salmonella pada beberapa produk pangan

10. Field Trip/kunjungan lapang.

 
More Articles...